Burung terbang

Jumat, 16 Oktober 2009

Bongkar Pasang OSKAS pada Menit Terakhir

Rencana OSKAS semula banyak ditentang banyak lembaga dan Unit Kegiatan Mahasiswa karena terlalu subjektif dalam penyusunannya. Bongkar pasang OSKAS atas desakan mahasiswa sering terjadi di menit terakhir.

Penyambutan mahasiswa baru 2009 kali ini mengalami fase baru. Mulai dari peralihan Nama Dunia kampus (DK) menjadi Orientasi Studi Kampus dan Spiritual (OSKAS) serta minimnya keterlibatan lembaga mahasiswa dalam menyambut “adik-adik” barunya. Tentunya perubahan ini mengundang respon yang kurang baik dari kelembagaan dan Unit kegiatan Mahasiwa (UKM) UMB.
Ketika ditanyakan, Rahman selaku ketua pelaksana OSKAS dalam dengar pendapat (11/08) bersama seluruh UKM menjabarkan mahasiswa tetap dilibatkan namun waktuya yang terbatas. Ia menjelaskan, OSKAS kali ini terbagi dalam tiga tahap setiap tahapnya ada tiga hari utnuk dua fakultas. Pengalokasian waktu tiga hari yaitu, satu hari untuk UKM dan Lembaga mahasiswa untuk mempresentasikan kegiatannya dan dua hari berikutnya untuk pelatihan ESQ bagi mahasiswa baru. Lanjutnya, peran BEM Fakultas sepenuhnya diserahkan pada acara fakultas dan UKM serta DPM akan dilibatkan menjadi Badan Pengawas (BP) diacara ini sesuai dengan Notulis Kajian Manajemen ( MoMR).
Rahman melanjutkan, alasan fundamental format OSKAS kali ini dikarenakan kedudukan OSKAS sebagai acara universitas. BEM Universitas yang sedang terjadi kekosongan kekuasaan membuat Direktorat Kemahasiswaan (DIRMAWA) tidak berani untuk melibatkannya. Namun, hal ini membuat UKM dan lembaga mahasiswa semakin resah, dikarenakan ada beberapa acara yang mendeskreditkan UKM dan lembaga. Diantara adalah durasi pengenalan UKM yang terlalu singkat serta singkatnya pengenalan fakultas. Pada akhirnya, tuntutan dari para UKM khususnya terlempar ke hadapan Rahman. Lima tuntutan ( baca tabel) UKM berakhir nihil. Jawaban yang diterima hanya penambahan waktu lima menit kepada para UKM.
Konsolidasi UKM dan Lembaga mahasiswa tingkat fakultas kembali terjalin. UKM yang merasa tuntutannya tidak terpenuhi dan BEM fakultas yang waktunya dikerdilkan akhirnya sepakat bersatu untuk berdiskusi bersama DIRMAWA (18/08). Tapi, Rahman tetap tak bergeming, ia tetap teguh pada pendiriannya, “OSKAS adalah acara UMB,” tegasnya. Pernyataan OSKAS yang diharapkan membawa mahasiswa ke arah yang lebih baik dan sesuai keinginan orang tua mereka,menjadi lanjutan penjelasan Rahman. Proses dialektika menjadi panas ketika ucapan ketua pelaksana OSKAS ini menegaskan bahwa acara ini adalah acara UMB. Spontan mahasiswa yang merasa hasil dari diskusi tersebut nihil, keluar ruangan sambil meneriakan “UMB bukan Mahasiswa.”
Cristian ’03 FTSP menyatakan, hal tersebut imbas dari vacum of power di kelembagaan BEM universitas dan MPM , sehingga kampus melakukan hal ini, ini pun menjadi satu bukti bahwa lunturnya jiwa keorganisasian di mahaiswa saat ini. Di temui saat musyawarah besar ikatan alumni mercu buana (17/08) Hadri Mulya pun angkat bicara mengenai ini, menurutnya tak ada pihak mana pun yang tersingkirkan, di acara ini semua pihak tetap terlibat , ketua DIRMAWA ini pun menyatakan bahwa semua ini untuk kebaikan semua pihak..
Dalam kasus ini kelembagaan mahasiswa menyatakan menolak untuk ikut berpartisispasi daam OSKAS. Kesepakatan ini akan di teriakan dalam aksi mereka, dan mengancam memboikot OSKAS apabila teriakan meraka tidak di dengar. Mahadita selaku ketua MPM periode 2008-2009 pun menyatakan sikap untuk menolak kegiatan ini ia menganggap ini adalah bentuk interversi kampus terhadap student government.
Esok hari UMB telah penuh dengan baner yang menyatakan penolakan terhadap OSKAS, akhirnya pada konsolidasi mahasiswa pada 19 agustus pukul 22.00 WIB. Konsolidasi tersebut didatangi Rahman, pada pertemuan tersebut ia pun menyerah dan bersedia untuk menyampaikan aspirasi mahasiswa pada Rektor , karena ia tidak punya wewenang dalam perubahan acara ini. Direncanakan pada 20 agustus mahasiswa akan bertemu langsung dengan rektor untuk membahas tuntutan mereka.
Puncaknya pada 20 agustus aksi penolakan OSKAS pun terjadi, luapan emosi dan kekecewaan terhadap kebijakan kampus meledak dalam aksi ini. Mahasiswa yang tergabung dari beberapa fakultas dan UKM terharu biru dan bersatu dalam balutan warna hitam. Menanggapi ini Rahman menyatakan bahwa aksi seperti ini sebetulnya tidak perlu terjadi, karena menurutnya ia telah menawarkan solusi yang cukup baik untuk mahasiswa, namun ia mengaku bahwa masih besarnya perbedaan pendapat.
Setelah sekitar dua jam aksi, perwakilan mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk bertemu Rektor. Roby broadcast ’06 memulai mediasi dengan membacakan tuntutan kepada rektor yang berisi pelaksanaan DK pasca idul fitri, dengan alasan “ kami tidak mau menggangu ibadah mereka.” Ujarnya. Rektor dengan nada yang meninggi namun masih terkontrol menjawab bahwa DK atau pengenalan kampus harus diadakan sebelum mahasiswa baru tersebut masuk kedalam perkuliahan.
Tuntan berikutnya adalah meminta agar DK dikembalikan ketangan mahasiswa. Suharyadi tetap menolak, karena mangacu pada keputusan DIKTI , bahwa DK adalah wewenang penuh rektorat, “ Jadi tidak ada lagi DK itu wewenang mahasiswa.” Tegasnya. Setelah itu ia menyatakan untuk mempertimbangkannya kembali dan mahasiswa diminta untuk menunggu hasil keputusan yang dikeluarkan, dengan catatan keputusan tersebut adalah keputusan terakhir dan tak bisa diganggu gugat. Namun, Sebelum meninggalkan ruangan rektor,perwakilan mahasiswa menegaskan bahwa selama keputusan tersebut tidak berpihak kepada mahasiswa maka acara OSKAS akan diboikot.
Dalam masa menunggu keputusan rektor, massa aksi tetap menahan mahasiswa baru yang berada didalam aula. Keputusan Rektor menghasilkan solusi tentang waktu ESQ yang tetap dan terdiri dari tiga tahap, dimulai 23 agustus sampai 28 agustus. Sedangkan, DK akan diadakan pada hari terkahir yaitu 29-30, dengan kesepakatan 29 agustus untuk fakultas dan jurusan lalu pada 30 agustus untuk demonstrasi UKM. Solusi tersebutpun disepakati massa aksi. *Dimas

Mencukil Cerdas dalam OSKAS

Metoda pembangunan karakter dengan nilai luihur memang agak susah didapat di sembarangan tempat. Selain harus ditempat yang kondusif, ternyata prasarana serta motivator pun harus berkualitas. ESQ 165 yang digawangi Ary Ginanjar diundang untuk menularkan ilmu dan kecerdasannya pada mahasiswa baru UMB. Sepadankah dengan hasil yang diharapkan?

Seperti namanya, Emotional Spiritual Quetion atau biasa disingkat ESQ merupakan pelatihan peningkatan kecerdasan emosi sekaligus kecerdasan spiritual seseorang. Metode ESQ ini diperkenalkan oleh Ary Ginanjar Agustian lewat lembaga bernama The ESQ Way 165. Tujuannya adalah membangun karakter masyarakat berdasarkan tujuh nilai luhur. Nilai-nilai itu berupa jujur, disiplin, tanggung jawab, visioner, kerja sama, dan adil serta peduli.
Untuk kedua kalinya, ESQ 165 kembali memberikan wejangan ‘jalan lurus’nya kepada mahasiswa baru (maba) Mercu Buana. Tidak seperti Dunia Kampus (DK) tahun lalu, tahun ini ESQ punya space khusus dalam penyambutan kali ini dengan nama Orientasi Studi Kampus dan Spiritual (OSKAS). Rencana awalnya, ESQ akan diberikan kepada maba dalam tiga tahapan. Tahap 1 bagi Fikom dan FTSP tanggal 24-25 Agustus, tahap 2 untuk FE dan FTI tanggal 27-28 Agustus, dan tahap 3 untuk FPsi dan Fasilkom tanggal 30-31 Agustus. Sekitar 2 bulan sebelumnya, pihak rektorat telah merancang OSKAS. Mulai dari penanganan tempat untuk sekitar 2000 mahasiswa, konsep acara, kepanitiaan dan seterusnya. Untuk ESQ sendiri bertempat di Aula Rektorat mulai dari pukul 08.00 s.d. pukul 17.00.
Namun, rancangan rektorat ini harus dihadapkan pada student government yang tiba-tiba mengamuk. Ketika itu, briefing maba tanggal 20 Agustus Rektor UMB, Suharyadi bersama segenap kelembagaan UMB menyepakati untuk merubah konsep OSKAS. ESQ pun akhirnya dilaksanakan pada tanggal 23-28 Agustus secara berturut-turut dalam 3 tahap fakultas yang sama seperti sebelumnya.
Seperti disinggung sebelumnya bahwa ESQ kali ini punya space khusus, Hadri Mulya selaku Kepala Kemahasiswaan beralasan DK sekarang berbenturan dengan Ramadhan. Maba dan para panitia tentu akan merasa lelah dan capek jika banyak beraktivitas seperti DK yang biasa. “Alangkah baiknya jika Ramadhan ini diisi dengan ESQ”, kata Hadri.
Rendy Pangalila, salah seorang trainer mengatakan bahwa ESQ ini diperlukan bagi para pemuda. Supaya pemuda khususnya mahasiswa benar-benar dapat memegang nilai-nilai kehidupan. Mereka juga bisa menyadari untuk apa mereka kuliah. “Nantinya kan mereka yang memimpin dan mengelola bangsa ini.” tutur Rendy.
Sejatinya, ESQ tidaklah benar-benar untuk kalangan Islam. Ary Ginanjar membuka untuk umum bagi siapa saja yang ingin melatih kecerdasan emosi dan spiritualnya. Hanya saja Ary menggunakan konsep dan metode yang bersumber dari ajaran Islam. Nama ESQ 165 diambil dari inti dasar Islam, yaitu ikhsan, rukun iman, dan rukun Islam. Metode ini tidak serta merta membuat penganut agama lain merasa terdoktrin, karena metode yang diberikan berupa pengembangan dari inti dasar tersebut. Dimana lembaga ini telah diterima di empat dari lima benua. Mulai dari Singapura sampai Jepang, Belanda, Amerika, Australia hingga New Zealand.
Agung Setiawan, Maba Broadcast 2009 mengakui ESQ ini adalah kegiatan yang bagus. Isinya berupa perenungan yang menyinggung tentang diri kita dan Pencipta. “Di dalam semuanya pada nangis.” ungkap Agung.
Tapi ada juga yang merasakan hal yang berbeda. Putri Fitriani, Maba FTSP 2009 berpendapat acara ini terlalu lama, sehingga membosankan. Ia pun tidak hadir pada hari kedua. “Sebenarnya nggak ngebetein, kita diajak ketawa, nangis, ketawa lagi, nangis lagi. Jadinya basi.” celotehnya.
Tentunya, ESQ ini tidaklah murah. Tarif biasanya ialah 650 ribu rupiah per orang selama tiga sampai empat hari. Rendy menjelaskan mengapa mahal, dikarenakan fasilitas yang digunakan tidak sederhana. Terlihat ada empat layar berukuran besar, juga sound system yang lengkap. “Bukannya kita tidak ikhlas, fasilitasnya aja setaraf konser supaya suaranya lebih punya power. Ini juga kan untuk investasi lembaga.” jelasnya.
Namun dengan sedikit tawar menawar antara rektorat dengan ESQ 165, tarifnya menjadi 170 ribu rupiah per orang. Jumlah maba yang mencapai 2.810 orang menjadi bargaining kampus yang tinggi. Hadri menuturkan, harga yang 170 ribu itu ditanggung sepenuhnya oleh kampus dengan anggaran universitas. *Rizki

Selasa, 13 Oktober 2009

Kebijakan kampus yang terlambat diberlakukan.

Penerangan gedung pusat kegiatan mahasiswa (PUSGIWA) yang mulanya 24 jam, kini hanya sampai pukul 10 malam.

Penerangan yang semula terealisasi 24 jam kini sudah tidak lagi. Pasca liburan hari raya idul fitri 1430H pihak UMB menetapkan sistem pemadaman listrik terjadwal dalam rangka penghematan energi. Seluruh pelataran gedung UMB kampus Meruya kini setiap pukul 10 malam sudah tidak menampakan keindahan sinar lampunya lagi. Terkecuali daerah pengamanan di lantai dasar.

Pusgiwa yang semula diperuntukan sebagai sarana pembelajaran mahasiswa sudah lama sudah beralih fingsi. Sebagian mahasiswa terutama yang mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) sering terlihat menjadikan sarana tersebut sebagai penginapan (kost-Red). “Kampus ini kan untuk media pembelajaran, bukan penginapan. Saya kira waktu operasional dari pukul 6 pagi sampai 10 malam cukup,” kata Purwanto selaku direktur keuangan dan manajemen aset.

Pemberlakuan kebijakan pun menuai kejanggalan dengan fakta di lapangan. Rahman, selaku kepala biro administrasi kemahasiswaan dan hubungan alumni menuturkan, kenbijakan sistem pemadaman terjadwal sudah diberlakukan sejak gedung pusgiwa berdiri, bukan hanya baru sekarang ini. “Kita punya konsep pusgiwa itu office our, artinya bukan untuk kost, menginap atau melampaui batas ketentuan UMB, bukan seperti itu fungsinya,” katanya. Komparasi kebijakan kampus lain, ia menambahkan, tentunya tidak hanya kita saja yang memberlakukan pemadaman terjadwal ini. “Kampus lain juga begitu seperti TRISAKTI dan UNAS,” pungkasnya.

Pemadaman terjadwal ini pun bisa saja tidak terjadi jika mahasiswa sedang ada kegiatan setelah sebelumnya meminta izin ke Direktorat kemahasiswaan (DIRMAWA). “Jika ada ijin sebelumnya ke pihak DIRMAWA bahwa ada kegiatan bersangkutan dengan kinerja UKM itu sndiri, baru kita tidak memadamkannya,” tukas Rahman. Tidak dengan izin sebelumnya, ia menambahkan, tidak perduli sedang ada kegiatan atau tidak, kalau memang tidak meminta izin sebelumnya ke DIRMAWA, listrik tetap dipadamkan. “Jadi kalau tidak ada izin sebelumnya, mau masih ada acara atau tidak, kalau sudah waktunya di padamkan, yah nggak ada urusan,” ujarnya.

Pemadaman terjadwal ini berkaitan masuknya UMB sebagai finalis Green Office, dengan salah satu program yaitu penghematan listrik. “Lagi krisis listrik begini, jadi saat jam operasional saja menyala, selain itu kita padamkan,” kata Purwanto. Ia pun menambahkan dengan membandingkan waktu semasa kuliah dulu. “Saya dulu juga aktivis mahasiswa, tapi nggak sampai tidur di kampus,” katanya. Ia juga meminta agar teman-teman mahasiswa mendiskusikannya. “Coba tolong di diskusikan dengan teman mahasiswa, memang beraktivitas apa sampai subuh. Cukuplah kampus sediakan fasilitas sampai jam 10 malam.” *Rizal

Minggu, 04 Oktober 2009

Mahasiswa UMB bangga memakai batik.

Never say you’re UMB students if you’re not wearing BATIK. Kalimat itu tertulis di spanduk besar yang terpampang dekat gedung rektorat Universitas Mercu Buana (UMB) ketika hak cipta batik ditetapkan UNESCO.


Suasana kampus berlogokan ‘api biru’ ini tampak tidak seperti hari biasanya. Mahasiswa yang menggunakan Batik saat itu mendominasi lingkungan kampus. Bukan tanpa tujuan mereka mengenakan batik hari itu (02/10). Sebelumnya, mahasiswa sudah mengetahui bahwa pada 2 Oktober 2009 seluruh rakyat Indonesia wajib mengenakan batik, karena hari itu pula ditetapkan Batik menjadi bagian dari 76 seni dan tradisi dari 27 negara yang diakui UNESCO dalam daftar warisan budaya tak benda melalui keputusan komite 24 negara yang bersidang di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab hingga Jumat (2/10), dikutip dari Kompas.Com.

Sebagai warga negara Indonesia khususnya keluarga besar UMB, mempunyai kebanggaan tersendiri saat batik ditetapkan sebagai warisan asli bangsa. “Moment seperti ini tidak boleh diabaikan. Ini adalah wujud penghargaan besar atas karya anak bangsa yang luar biasa,” tutur Rahman dosen politik UMB. Ia pun menambahkan, tujuan dari memakai batik di UMB sebagai wujud rasa bersyukur UMB terhadap legitimasi atas hasil karya batik itu. “Kami tidak menyuruh mahasiswa mengenakan batik dan bukan pula peraturan dari pemerintah, melainkan hanya himbauan saja.”

Sejumlah mahasiswa juga mendukung penetapan hak cipta batik tersebut. Kebanggaan tersendiri bagi yang mengenakan batik saat itu. “Selama ini kita mikir batik Cuma buat hadir di acara tertentu doang. Tapi nyatanya gue liat semua pakai batik keren-keren banget kok,” ujar Putri, Broadcasting ’09. Putri juga menyayangkan sebagian mahasiswa yang tidak mengenakan batik hari itu. “Rada kecewa sama mahasiswa yang nggak pakai batik. Gue aja bela-belain minjem ke saudara,” tambahnya.

Kesadaran akan rasa cinta tanah air masih minim dirasakan sebagian mahasiswa yang tidak mengenakan batik. Kekecewaan juga diutarakan Danang, Broadcasting ’08, “ Bukan orang Indonesia yang nggak pake batik,” tukasnya. Selain menyayangkan hal itu, ia pun sedikit kecewa dengan sikap Indonesia yang terkesan lamban dalam penetapan hak cipta batik tersebut. “Orang Indonesia kalau nggak ada rangsangan nggak bakal terespon, nunggu diklaim dulu nanti baru pada mencak-mencak.”

Tindakan lamban negara yang diutarakan Danang diartikan khusus sebagai kelemahan bangsa oleh Rahman. “Baru ditetapkan hak cipta setelah ada yang mengklaim adalah salah satu kelemahan Negara dalam mengapresiasikan nilai-nilai karya cipta anak bangsanya,” kata Rahman. Ia juga menuturkan contoh kasus dari kelemahan bangsa ini, misalnya tari pendet yang telah diklaim Malaysia karena tidak adanya tindakan preventif dari Indonesia. “Yang kita harus salahkan adalah departemen kehakiman dan HAM. Karena terlalu sulit mengadakan persyaratan hak paten tari pendet itu, padahal pemda Bali sudah mengusulkan,” tambahnya.

UMB juga berniat menetapkan setiap minggu atau bulannya mengenakan batik saat perkuliahan. Namun semua masih perlu dibicarakan lanjut. “Penetapan setiap minggu atau bulan memakai batik belum ditetapkan di UMB. “Namun untuk tanggal 5 dan 9 Oktober 2009 dihimbau pakai batik, tapi kali tidak wajib seperti sebelumnya,” tutur Rahman. Sebagian mahasiswa mendukung jika ditetapkan mengenakan batik secara rutinitas. Seperti yang diungkapkan Danang, “Saya mendukung penuh mengenakan batik di kampus, dan kalau bisa tiap minggunya ada hari khusus pakai batik,” tukasnya jelas.

Kebanggaan mengenakan batik sebagai warisan asli bangsa Indonesia memang harus dilakukan dari diri masing-masing individu. Bukan karena kerabat dekat ataupun keluarga sekalipun. “Kita pakai batik saat ini sudah menjadi kebanggaan internasional,” kata Rahman. *Rizal

Senin, 03 Agustus 2009

Pekan Orientasi Kado untuk Orientasi


Orientasi telah menginjak usianya yang ke 16, kado spesial disiapkan oleh anggotanya, suatu perayaan yang digelar satu minggu dengan Nama acara Pekan Orientasi, suatu kegiatan yang didalamnya begitu banyak acara yang terangkai.
dimulai dengan pembukaan Bazar buku pada tanggal 25 juli hari sabtu, dilanjutkan dengan pembukan pameran foto, dan pada hari senin tanggaal 27 kami mengadakan workshop jurnalistik bagi kawan - kawan pelajar SMU sederajat, langkah acara pun berlanjut kepada workshop cukil kayu yang di isi oleh kawan - kawan gerakan anti kapitalis.
bedah buku dan bedah film tidak ketinggalan dalam acra kami, turut mengundang kawan - kawan FPMJ , acara pun terasa begitu hangat.
dan pada puncaknya adalah dimana kami berkumpul dengan senior - senior kami terdahulu yang telah lulus, tak lupa diramaikan dengan ritual potong nasi tumpeng, suka cita dan dan ramainya senior yang datang (spek, tapi lumayanlah) mampu membayar kelelahan para panitia.

thank to :
bapak ketua panitia
orangtua yang mengizinkan kami untuk menginap
ipung anak voli
mamanya ratna yang dah masakin n mw2nya ngirim makanan tiap pagi
suara aneh diatrium
dan all kru yang dah kerja keras....
SEMANGAT..............MET ULTAH YA ORIENTASI

*Dimas

 
Edited Design by Ali Nardi | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes