Burung terbang

Kamis, 27 Mei 2010

UMB Tidak Punya Kepala


Minimnya tindakan regenerasi Student Government (SG) menjadikan kampus ini kembali ke masa sekolah. Dependensi tindakan mahasiswa dan ketidakmampuan mengatur diri sendiri dibiarkan seolah tak penting. Setahun sudah kita berjalan tanpa kepala, membuat organisasi kampus ini berjalan tanpa arah.

Oleh : Muhamad Wahyu


Setahun sudah mahasiswa UMB kehilangan nakhodanya. Nakhoda yang menjadi penanggung jawab atas semua kegiatan mahasiswa tingkat universitas dibiarkan terbengkalai tak terisi. Terhitung sejak oktober tahun lalu, rektorat secara de jure membekukan perangkat kepemerintahan Hadi Susanto dan Mahadita sebagai ketua BEM dan MPM 2007-2008.. Pembekuan ini diakibatkan atas ketidakmampuan BEM-U mengadakan pemilihan umum juga telah melewati masa jabatan. Tercatat tiga kali pembentukan Komisi Pemilihan Umum Pemilihan Raya (baca : KPU Pemira) tidak ada yang mendaftar. Ironisnya, organisasi tingkat fakultas pun diam tak berdaya. Miralda Genny, eks. Anggota Departemen Luar Negeri MPM 2007 mengatakan kesalahan vital saat itu adalah tidak adanya akumulasi kekuatan dari lokalitas fakultas, sehingga membuat pemilihan ini tidak solid. Setali tiga uang, Hadi juga mengatakan tidak semua anggota BEM-U aktif dalam program kerja BEM.
Ketidaksolidan inilah yang membuat momentum penyambutan mahasiswa baru 2009 menjadi tak terarah. Bongkar pasang Dunia Kampus (DK) menjadi catatan hitam student government (SG) UMB.. Kacaunya DK terlihat dari ambiguitas kinerja Badan Pengawas yang juga menjadi pelaksana dalam lapangan. Juga pada persiapan yang kurang matang. “Panitia dibentuk atas kondisi yang mendesak, jadi maklumin aja” ,ujar Solahudin sebagai ketua BP pada rapat evaluasi DK. Mental menunggu momentum ini memang disesalkan berbagai pihak terutama dari UKM, Ahmad Sahlan, Ketua Swatala 2009 beranggapan, mental mahasiswa masih sangat miris. “Mental organisasi saat ini masih sama seperti anak SMA ,“ tukasnya.
Mengenai status quo saat ini, Agustinus Bayu mengatakan letak kesalahan utama ada dalam diri mahasiswa. Tidak adanya mediator membuat perjalanan SG mengalami penurunan, sehingga mahasiswa tak bisa mandiri. Pernyataan mantan anggota komisi organisasi MPM ini berdasarkan analisis akan mental mahasiswa saat ini yang terlalu individualistis, apatis dan hedonis. “Kelihatan dari tidak adanya minat jadi KPU”, ujarnya.
Kegiatan BEM-U dibawah kepemimpinan Hadi memang diakui oleh Mahadita, sangat minim. Seharusnya proses kaderisasi yang menjadi ajang kompetisi melahirkan generasi kritis dan kreatif wajib berkelanjutan, sehingga gerakan dari lembaga formal lebih agresif, “Mahasiswa saat ini sudah takut pada akademik itu sendiri”, tuturnya. Mantan ketua MPM itu juga mensinyalir ada unsur sentimentil terhadap organisasi kampus oleh pihak-pihak tertentu. “Tidak etis jika saya mengatakan siapa pihak itu”.
Pembenaran akan realitas tak perduli, tentunya akan berakibat buruk pada nasib student Government di UMB ini. Preseden buruk mengenai vacum of power yang diimbuhkan oleh mahasiswa baru harus segera menemukan jalan keluar. Mempercepat pemilihan raya akan sangat menolong sebagai langkah revitalisasi kemandirian sikap mahasiswa. Bayu berpendapat, solusi yang tepat adalah Ing Ngarso Sung Tulodo, sebagaimana yang diajarkan Ki Hajar Dewantara ketika melihat kondisi pendidikan Indonesia. Harapan menciptakan kampus sebagai miniatur negara, tentunya akan segera terwujud jika semua pihak berpartisipasi dan menanggalkan egoistik yang ada untuk memperjuangkan keberadaan BEM-U sebagai simbol integritas mahasiswa.

Rabu, 30 Desember 2009

Janji Dekanat di Malam Minggu

Akreditasi Program studi Teknik Informatika turun, dekanat angkat bicara. Janji – janji ditebarkan , harapan dan ancaman mahasiswa pun jadi jaminannya.

Sabtu malam (7/11) pukul 19.00 WIB ratusan mahasiswa teknik informatika baik reguler maupun kelas karyawan berbondong-bondong datang ke aula UMB dengan membawa spanduk bertuliskan “Kembalikan Akreditas Kami / tutup.” Kedatangan mereka dimaksudkan untuk memenuhi undangan Dekanat perihal turunnya Akreditasi TI. Selain mahasiswa aktif turut hadir pula para alumni yang meramaikan suasana.
Diskusi yang berdurasi dua jam ini dimoderatori oleh Bambang Jokonowo selaku wakil dekan. Awalnya suasana begitu dingin dan senyap, Namun ketika Mustafa Arnanto (Baca:Dekan TI) membacakan sebab-sebab penurunan akreditasi suasana berubah menjadi panas dan moderatorpun membuka ruang bertanya bagi mahasiswa untuk menetralisir suasana.
Panji Pratomo mahasiswa TI ’06 Reguler menjadi mahasiswa pertama yang mengajukan pertanyaan, ia mempertanyakan tentang kesungguhan para pejabat dekanat dalam menjalankan tugasnya. Selain itu ia menegaskan bahwa pernyataan yang tertulis dalam spanduk itu memang ditujukan untuk para dekanat yang seharusnya bertanggung jawab atas masalah ini. Panjipun menyinggung tentang keberadaan dekan yang begitu jarang hadir dikampus, ia menganalogikan “fasilkom ini adalah kereta bapak adalah masinisnya, bagaimana kereta ini mau jalan kalo keretanya sering ditinggal oleh masinisnya,” ujar Panji. Mananggapi pertanyaan tersebut dekan menyinggung tentang organisasi tertinggi mahasiswa,”lalu bagaimana dengan organisasi kalian?” ujar Dekan. Ia mengatakan tidak perlu mempersoalkan tentang keberadaan seseorang, tapi seharusnya mahasiswa fokus ikut membantu dalam memperbaiki keadaan.
Setelah Panji, Tri Sulistio mahasiswa TI ’07 reguler mempertanyakan mengenai rencana jangka pendek yang akan dilakukan oleh kampus, hal ini Di jawab oleh dekan dengan wacana – wacana yang telah tersusun diantaranya akan adanya penambahan dosen tetap dalam waktu dekat ini, pelaksanaan riset dosen akan melibatkan mahasiswa dan akan dilakukan pengabdian masyarakat baik berupa jurnal maupun seminar.
Pernyataan tersebut didukung oleh Devi Fitriah selaku dosen tetap yang sementara waktu menggantikan Abdusy syarif sebagai kepala Program Bidang Studi. Ia mengumumkan hasil rapat dengan pihak rektorat, pada tahun pertama terhitung september 2009 akan ada penambahan empat orang dosen tetap dan akan berlanjut pada tahun berikutnya enam dosen dan tahun ketiga lima dosen tetap jadi selama tiga tahun total 15 dosen tetap sebagai langkah perbaikan. Keputusan ini mengacu pada salah satu faktor penurunan akreditasi yaitu rasio dosen dengan mahasiswa tidak seimbang, seharusnya rasio 1:30 (Baca: satu dosen mengajar 30 mahasiswa). Pada kenyataannya di UMB enam dosen tetap harus mengayomi 1800 mahasiswa.
Hal ini ditanggapi oleh salah satu alumni TI yang hadir, ia menyayangkan sikap kampus yang baru menambah jumlah dosen setelah ada penurunan akreditasi, sejak tahun 1999 jumlah dosen di TI tidak pernah ada penambahan, “apabila itikad baik itu ada, setidaknya dari tahun 1999 satu tahun ada satu dosen baru.” Keluhnya.
Setiyono mahasiswa TI PKK angkatan 11 angkat bicara. Menurutnya ini sebagai unsur bisnis yang dilakukan oleh pihak kampus, ia menganggap pihak kampus terlalu memaksakan jumlah mahasiswa yang masuk tanpa mempertimbangankan kemampuan kampus itu sendiri, ”Kalo Bapak tidak mampu menyediakan banyak dosen ,kenapa bapak berani menerima banyak mahasiswa, kalo mau bisnis , bisnislah yang bersih.” Ujarnya dengan tatapan menghakimi. Ia pun menambahkan , bahwa mereka masuk TI UMB karena akreditasi TI ‘B’ , dengan ada penurunan ini maka ia mempertanyakan kompensaasi yang akan di berikan oleh kampus, terlebih bagi mahasiswa yang sebentar lagi akan lulus. Menanggapi hal itu dekan menjawab bahwa hal itu diluar kewenangannya, “ kita berbenturan dengan marketing.” Jelasnya.
Agung wiseso TI ’06 Reguler menekan kampus untuk menambah jumlah dosen secara signifikan bila kampus memang benar – benar beritikad baik dalam menanggapi hal ini, namun hal ini di mentahkan oleh Bambang Jokonowo selaku wadek, ia mengaku bahwa ia yang bertanggung jawab sebagai tim perekrut dosen baru, ia menjelaskan bahwa begitu sulitnya mencari dosen tetap dijakarta, selain harus mencari dosen yang memiliki kriteria yang sesuai dengan standarisasi yang di terapkan UMB, “kita pun harus saingan dengan kampus lain yang juga membutuhkan penambahan dosen.” Tukasnya.
Mahasiswa pun menerima janji pihak dekanat tentang penambahan dosen, dan pada tahun kedua nanti yaitu tahun 2011 jumlah dosen akan bertambah samapi 15 orang, dan pihak kampus pun akan mengajukan banding apabila dirasa telah mampu dan terjadi kenaikan signifikan dalam perbaikan fasilitas. Mahasiswa pun akan mengadakan pemantauan terhadap tindakan kampus, dan mereka pun meminta pihak kampus memberikan laporan perkembangan itu per tiga bulan. *Dimas

penegakan hukum VS Citra UMB

“Karena kalau kita putus kerjasama, akan merusak citra UMB. Sementara dari unit itu kan perlu kita lindungi tentang agreement-nya,” ujar Magito.

Terhitung, ini adalah tahun kedua festival Universitas Mercu Buana (UMB) diselenggarakan oleh pihak HUMAS di bawah naungan Direktorat Pemasaran UMB. Festival ini mengangkat tema Go succes with diversity. Mengenai konteks tema itu, Irmulan Sati selaku Kepala Biro HUMAS dan Customer Care yang merangkap ketua panitia festival UMB ini menjelaskan, remaja saat ini harus mulai diberikan edukasi sejak dini tentang keberagaman, agar mereka bisa terbiasa melihat sesuatu dari perspektif berbeda. Terutama konteks etnis, budaya dan pola pikir. “Di festival UMB ini semua di create dalam bentuk sport, sains, seni dan green environment,” katanya.
Seperti tahun sebelumnya, acara ini dimeriahkan oleh berbagai perlombaan tingkat SMA/SMK se-Jabotabek. Dari mulai Volley Ball Competition, Basket 3 on 3 Competition sampai perlombaan marawis menjadi bagian dari acara tersebut. Tak hanya itu, bazar makanan dan beraneka cendera mata juga ikut memeriahkan festival yang diadakan dari 16 – 30 Nopember 2009 ini.
Tak dipungkiri, bazar tersebut mengundang banyak animo mahasiswa mengunjungi tiap-tiap stand yang ada di atrium UMB itu. Salah seorang mahasiswa mendukung adanya bazar ini. Selain bisa menarik masyarakat luar untuk masuk dalam ruang lingkup UMB, juga dapat mengefisiensikan waktu belanja mahasiswa. “Bazarnya untuk kita belanja-belanja jadi dekat, sedikit refreshing kan juga perlu,” kata Anggita Aprilda, Broadcast ’08.
Di lain sisi, menuai kontra perihal bazar, khususnya makanan. Pasalnya, peruntukan area yang dijadikan tempat bazar tersebut tidak sesuai dengan peraturan yang selama ini dikumandangkan pihak yang paling bertanggungjawab, Biro Manajemen Gedung dan Sarana (BMGS). Achmad Syahlan, anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) SWATALA mengutarakan perihal bazar makanan, untuk substansi acara khususnya bazar makanan terlihat ada kesenjangan antara pihak kampus dan mahasiswa. “Gue nggak setuju ada bazar makanan gini. SWATALA pernah jalanin bazar makanan dan itu nggak dibolehin sama pihak kampus. Akhirnya bazar yang udah dibuat cuma ada stand-standnya aja, tapi nggak ada yang isi,” tukasnya.
Menanggapi hal itu, Magito selaku Kepala BMGS angkat bicara. Ada yang perlu diketahui teman-teman di lembaga mahasiswa, ada yang tidak sesuai dengan peruntukan area bazar. Dan ini sedang disiapkan surat peraturan sementara, karena walaupun itu institusi di UMB, tentu alokasi tentang peruntukan area semuanya akan kita berlakukan sama, “baik itu untuk lembaga mahasiswa maupun unit yang terkait menopang promosi dan kegiatan di kampus ini,” ujarnya.
Sejalan dengan peraturan peruntukan area yang masih simpang siur ini, Irmulan Sati mengakui adanya teguran yang dilakukan pihak BMGS kepada penyelenggara festival (Baca: Direktorat Marketing), meskipun sebelumnya pihak HUMAS, BMGS dan Kemahasiswaan telah bersinergi. BMGS memberi teguran pada Direktorat Marketing karena terdapat bazar berkaitan dengan makanan. “Sebenarnya BMGS hanya mempersoalkan penjual makanan yang menggunakan kompor gas, karena takut menimbulkan kebakaran kalau terjadi apa-apa,” katanya. Mengenai peraturan baku peruntukan area, Ia menambahkan, pasca peneguran BMGS kemarin (17/11), bazar akan tetap berjalan sesuai kesepakatan pihak eksternal (Baca: Event Organizer) dengan HUMAS UMB. “Karena BMGS sendiri belum ada peraturan tertulis berkaitan dengan mekanisme pengelolaan bazar, dan itu baru akan dikeluarkan 1 Januari 2010,”ujarnya. Ia pun berkilah, “Kalau bazar ini kita stop, nanti akan memperburuk citra UMB sendiri.”
Joko Sugiharjo selaku Kepala Bagian Pengendalian Kegiatan Mahasiswa, mengamini peraturan peruntukan area tersebut yang baru akan dikeluarkan 1 Januari 2010 mendatang. Pertanggal 1 Januari 2010 akan dikeluarkan Surat Keputusan (SK) oleh BMGS yang mencakup seluruh peraturan kampus. Di antaranya peraturan dilarang merokok di area kampus, lokasi-lokasi membuka bazar makanan untuk UKM ataupun pihak kampus sendiri dan juga penempatan jika ada acara musik, penyewaan aula serta fasilitasnya juga. “Saat ini peraturannya sekedar lisan saja, karena mengeluarkan SK itu juga butuh proses, tidak langsung begitu saja keluar SK-nya,” katanya. Mengenai peneguran BMGS kepada Direktorat Marketing, Ia menambahkan, pihak BMGS menegur pihak pemasaran karena memang ada masakan yang menggunakan kompor gas, dan itupun sebelumnya pihak BMGS dan kemahasiswaan tidak tahu dan baru terlihat kemarin (17/11). “BMGS dan pemasaran memberi solusi, agar makanan itu sudah siap saji ketika dijual di UMB, tanpa perlu dimasak lagi. Tetap tidak kami bubarkan, karena demi menjaga nama baik UMB juga,” ujarnya.
Tidak saja pihak Direktorat Pemasaran yang mendapat teguran dari BMGS. Penjual makanan di bazar itu yang notabene tidak tahu-menahu soal larangan tersebut, juga terkena teguran. Pasalnya, masih ada dari mereka yang menggunakan kompor gas pasca teguran ke Direktorat marketing tersebut. “Sempet mau angkat kaki juga dari sini karena nggak boleh pake kompor. Padahal kan pertamanya nggak ada peraturan kaya itu,” kata Dea, salah seorang pedagang combro. Ia mengaku, telah membayar biaya sewa tempat untuk sepuluh hari ke depan dengan biaya perharinya seratus ribu rupiah. Ia menambahkan, peneguran pihak kampus hari rabu (18/11). “Saya sih nggak tahu menahu urusan tidak boleh menggunakan kompor, nggak mungkin gorengan udah dingin gini ada yang beli.”
Dalam hal ini, pihak kantin UMB yang sangat merasa dirugikan, mengeluhkan perihal bazar makanan itu. Mereka menyayangkan pihak universitas menggelar bazar makanan pada festival UMB tahun ini. Realitanya, di UMB sendiri sudah tersedia kantin. “Kalau di atrium ada bazar makanan juga, otomatis kantin sepi pembeli dan omzet kita pun turun,” ujar seorang penjual makanan di kantin UMB yang enggan menyebutkan namanya. Perihal laporan ke pihak universitas, Ia menambahkan, mengenai bazar makanan sudah dilaporkan pihak kantin kepada universitas, namun sampai saat ini (18/11) belum ditanggapi sama sekali.
Magito mengakui, ada beberapa lembaga mahasiswa dan banyak pihak (termasuk kantin) mengeluhkan adanya bazar “makanan basah” di atrium yang sifatnya public area yang digunakan untuk diskusi, istirahat mahasiswa, browsing dan lainnya. Jelas dengan dengan kondisi sekarang ini tentu sangat mengganggu. “Jadi, memang aturan ini agak simpang siur,” tukasnya jujur. Mengenai SK khusus peruntukan area kampus, Ia menambahkan, saat ini BMGS sedang menyusun Work Instructions (WI) untuk mengatur semua fasilitas kampus untuk bisa berjalan baik. Baik itu fungsi office room, ruang rapat lembaga mahasiswa dan universitas, kelas, lalu selasar A- B, koridor antara B-D dan khususnya selasar atrium UMB. Sehingga perlakuan terhadap lembaga mahasiswa dan instusi juga akan diberlakukan adil. Kita targetkan terhitung mulai 1 Januari 2010, seluruh penataan area zona ini akan kita berlakukan adil. “Kalau itu diizinkan untuk universitas tentu akan diizinkan pula pada lembaga mahasiswa,” imbuhnya.
Mengenai tindakan ke depan BMGS untuk bazar makanan ini, seperti diungkapkan Magito, ini terkait dengan kesepakatan antara ketua festival dengan Event Organizer. “Karena kalau kita putus kerjasama akan merusak citra UMB. Sementara dari unit itu kan perlu kita lindungi tentang agreement-nya,” ujar Magito.
*RizalMohamad

Jumat, 16 Oktober 2009

Keputusan itu Tak Mudah

Mediasi yang dilakukan pihak kemahasiswaan dengan kelembagaan mahasiswa antar fakultas dan beberapa UKM tak kunjung menemukan titik terang. Pasalnya tuntutan mahasiswa menyelengarakan Dunia Kampus (DK) setelah lebaran, adalah ‘Harga Mati.’


Mediasi yang dilakukan pihak kelembagaan mahasiswa, fakultas serta seluruh UKM di Universitas Mercu Buana (UMB) tak kunjung membuahkan hasil Win-win solution dengan pihak kemahasiswaan. Pasalnya pihak kemahasiswaan tidak menerima tuntutan mahasiswa untuk menyelenggarakan Dunia Kampus (DK) setelah hari raya idul fitri nanti. Pihak kemahasiswaan menilai tuntutan ini terlalu mengada-ngada dan jauh dari perijinan pihak rektorat. “Saya tidak berhak menyetujui atau tidaknya tuntutan ini sebelum memberikan laporan kepada direktur kemahasiswaan dan rektor, tapi Saya yakin pasti tuntutan ini dimentahkan oleh rektor,” ujar Rahman sebagai divisi pengendalian kegiatan kemahasiswaan.

Mendengar hasil dari mediasi yang dilakukan pada Rabu (19/08), sehari sebelum briefing OSKAS untuk fakultas ilmu komunikasi (FIKOM) dan fakultas teknik sipil (FTSP), pihak gabungan mahasiswa yang menamakan ‘aliansi mahasiswa’ tersebut menyatakan keras menolak opsi yang diajukan oleh kemahasiswaan dan Dunia Kampus dilaksanakan setelah lebaran adalah harga mati dari mahasiswa. Pasalnya, opsi tersebut berisi bahwa pihak mahasiswa diperbolehkan menggunakan dua hari terakhir OSKAS untuk full kegiatan mahasiswa tanpa intervensi acara universitas. “Kami dari kemahasiswaan sudah memberikan titik temu terbaik dengan memberikan waktu dua hari untuk mahasiswa. Namun pihak mahasiswa masih bersikeras menolaknya,” ujar Rahman.

Aksi menolak OSKAS secara paksa pun akhirnya tak terelakkan lagi. Kamis (20/08) saat acara briefing untuk persiapan OSKAS dari calon mahasiswa FIKOM dan FTSP yang berlangsung di aula UMB, perwakilan mahasiswa dari tiap fakultas berdemonstrasi di luar aula menentang penghentian acara tersebut. Pasalnya pihak kemahasiswaan dan rektorat tidak memperdulikan aspirasi mahasiswa. Praktis, bentrok antar mahasiswa dengan pihak keamanan pun terjadi. Sebagian fasilitas kampus seperti tempat sampah rusak akibat kejadian tersebut. Danu, salah seorang demonstran mengungkapkan, “Kita disini tidak akan anarkis seperti ini jika hak mahasiswa tidak ditiadakan seperti ini. Kami seperti ini karena suara kami sudah tidak didengar lagi oleh pihak kemahasiswaan,” Tukasnya semangat.

Ketegangan pun mencair setelah Rahman, perwakilan dari kemahasiswaan turun untuk bernegosiasi kembali dan kali ini dengan pihak rektorat. Praktis acara yang semula dikoordinir dari pihak kemahasiswaan diambil alih oleh para kelembagaan dan UKM. Sontak, para calon mahasiswa pun kaget dengan pengambil alihan acara tersebut. Ali-alih para mahasiswa dari berbagai kelembagaan itu sambil menunggu keputusan dari mediasi dengan pihak rektorat.

Di lain sisi perwakilan dari kelembagaan mahasiswa dan UKM bermediasi dengan Suharyadi selaku rektor UMB didampingi staff kemahasiswaan dan direktur kemahasiswaan Hadri mulya.. Pihak mahasiswa tetap bersikeras menyuarakan aspirasinya kepada rektor, tuntutan mereka kali ini terpecah menjadi dua suara, Roby arya perwakilan mahasiswa dari BEM FIKOM menuntut sama seperti konsep pertama yaitu mengadakan DK setelah lebaran, dan dari pihak Randy Eka perwakilan dari BEM FTSP meminta agar selama sembilan hari OSKAS, tiga hari terakhir acara untuk universitas, fakultas dan UKM. Kedua tuntutan ini masih perlu dipertimbangkan lebih dulu. “Saya akan mengevaluasi lebih lanjut tuntutan ini bersama dengan pihak kemahasiswaan dan para dekan. Setelah keputusan jadi, sudah tidak bisa diganggu gugat lagi oleh siapapun termasuk mahasiswa,” ujar Suharyadi.

Sementara calon mahasiswa yang berada di aula belum dipulangkan oleh aliansi mahasiswa sampai melewati jam pulang yang telah ditetapkan yaitu pukul 12.00 WIB. Tak ada tindakan berarti dari pihak kemahasiswaan dengan kejadian itu sebelum menunggu hasil keputusan rektor dan para jajarannya. Di acara tersebut seluruh perwakilan lembaga mahasiswa mengumumkan bahwa akan diadakan DK setelah lebaran nanti dan setelah OSKAS selesai mereka (baca: calon mahasiswa) harus mengenakan baju lengan panjang putih dan celana panjang hitam sampai pelaksanaan DK nanti. Ironisnya, hampir setengah dari jumlah mahasiswa kurang lebih 800 orang itu menyetujui pelaksanaan DK tersebut. Sebagai simbolis menyetujui usul yang diberikan pihak mahasiswa, tiap calon mahasiswa tersebut harus menandatangani bagian belakang tanda peserta OSKAS yang mereka pakai.

Selang beberapa menit setelah pengumuman DK, banyak dari calon mahasiswa menyatakan keberatannya atas pelaksanaan DK dan peraturan kostum yang ditetapkan aliansi mahasiswa. Mereka menganggap kebijakan ini terlalu memberatkan mahasiswa baru dengan mengadakan pengenalan kampus dalam dua acara yang berjauhan rentang waktunya. Tika calon mahasiswa desain grafis ’09 mengungkapkan keluh kesahnya, “Acara sekarang ini tidak jelas konsepnya apa plus bosenin banget. Dan masalah DK habis lebaran Saya tidak setuju, karena setelah OSKAS ini kan kita semua sudah menjadi mahasiswa, tapi kenapa harus dilantik ulang lagi. Saya takut itu hanya ospek ilegal saja,” ujarnya.

Berbeda dengan yang diungkapkan Tika, Haya calon mahasiswa broadcasting ’09 mendukung penuh acara DK yang akan diselenggarakan setelah lebaran itu. “Saya setuju kalau habis lebaran, karena kan kalau puasa itu jadi tidak maksimal kita mengikuti segala acara yang ada dan kebersamaan juga pasti jadi tidak kompak,” tuturnya. Haya juga menambahakan kalau acara yang sekarang diambil alih oleh mahasiswa itu jadi seperti acara tidak terkonsep. “Acara saat ini bener-bener tidak jelas dan ngebosenin. Padahal di jadwal sekarang ini hanya briefing buat OSKAS aja.”

Sekitar pukul 14.30 WIB aliansi mahasiswa dan pihak rektorat beserta kemahasiswaan kembali bermediasi. Dalam mediasi kali ini adalah pemberitahuan hasil keputusan rektor dengan para dekan beserta pihak kemahasiswaan yang telah dievaluasi kepada pihak mahasiswa. Hasil keputusan menetapkan bahwa pihak rektorat memberikan kebijakan selama kegiatan OSKAS sembilan hari, dua hari terakhir penuh dipergunakan untuk fakultas dan UKM tanpa intervensi dari kegiatan OSKAS yang sudah berlangsung selama enam hari sebelumnya. “Keputusan ini diputuskan berdasarkan hasil rembukan antara saya, para dekan dan kemahasiswaan, dan ini tidak bisa di ganggu gugat lagi,” tukas Suharyadi kepada forum.

Dalam keputusan tersebut aliansi mahasiswa tidak langsung menyetujui begitu saja keputusan yang diberikan pihak rektorat dan jajarannya tersebut. Mahasiswa meminta waktu untuk berkonsolidasi kembali dengan seluruh pihak kelembagaan mahasiswa yang memang tidak ikut dalam mediasi saat itu atau berada di luar ruangan. Mediasi kembali berlanjut sekitar pukul 16.45 WIB dan dalam mediasi kali ini menjadi puncak selesainya semua permasalahan. Pihak mahasiswa menyetujuai hasil keputusan rektorat dengan satu ajuan syarat lagi yaitu saat acara fakultas yaitu tanggal 29 Agustus 2009, harus diadakan buka puasa bersama. “Disaat itu kami akan mengeratkan kebersamaan seluruh fakultas kepada adik-adik kami,” jelas Randy dalam forum. Pihak rektorat akan mempertimbangkan kembali mengenai hal tersebut dan segera memberi konfirmasi kepada pihak mahasiswa. *Rizal

Dinamika Penyambutan Mahasiswa Baru UMB

Pergantian nama Dunia Kampus (DK) secara sepihak dan minimnya keterlibatan lembaga dalam OSKAS 2009, bukanlah hal pertama kali di UMB. Apakah penyambutan kali ini merupakan pengulangan sejarah masa lalu?

Kebudayaan dalam menyambut mahasiswa baru selalu dilakukan oleh semua civitas akademik di kampus. Kebudayaan yang terus bergulir dan mengalami beberapa perubahan tentunya menjadi sebuah cerita yang menarik untuk ditelisik. Seperti budaya perpeloncoan dan pengojlokan fisik yang dilakukan terhadap mahasiswa baru di tahun 1970-an yang dikenal dengan Masa Prabakti Mahasiswa ( MAPRAM). Penyambutan metoda seperti ini dinilai melewati batas kewajaran karena melibatkan kegiatan fisik yang berlebihan, sehingga nama MAPRAM berubah menjadi Orientasi Pengenalan Kampus (OSPEK).
Pergantian nama ini ditenggarai oleh Surat Keputusan Mendikbud (mendiknas-red) No.0125/U/1979, yang menyatakan pelarangan terhadap bentuk perpeloncoan fisik dalam pelaksanaan penerimaan mahasiswa baru. Kemudian disusul dengan dikeluarkannya surat edaran dari Dirjen Dikti No. 651/D/U/1985, tanggal 2 April 1985 yang intinya menyatakan bahwa mulai tahun 1985 perpeloncoan fisik dihapuskan secara tuntas dari lingkungan kampus.
Sejarah UMB mencatat, tepatnya pada tahun 1981 Yayasan Menara Bhakti membuka Akademi Wiraswasta Dewantara (AWD). Penyambutan di AWD sendiri berlangsung pada tahun pembukaannya dan dilaksanakan oleh para staf pengajar. Pada saat itu OSPEK sendiri dinamakan “Kontrak Belajar” yang diikuti oleh 150 mahasiswa pertama dan metodanya berupa Bimbingan Mahasiswa. Sistem yang berlangsung pada tahun 1983-1984 ini, berisikan perjanjian komitmen mahasiswa tentang masa studi tepat waktu yang ditandatangani oleh mahasiswa tersebut dihari terakhir kegiatan penyambutan.
Ketika UMB dibuka pada tahun 1985, kegiatan OSPEK mahasiswa UMB dan AWD dilakukan bersamaan serta pelaksanaannya pun masih ditangani oleh staf pengajar dari keduanya. Kegiatan ospek ini dilakukan di luar kampus, tepatnya di villa Hambalang, Bogor, Jawa Barat. Dan yang menarik dari kegiatan tersebut adalah keikutsertaan pihak marinir yang ditugaskan untuk melatih kedisiplinan para mahasiswa.
Tahun 1987, Ospek mahasiswa AWD dan UMB dipisah berdasarkan institusi masing-masing. Keterlibatan mahasiswa dalam Ospek pun lebih besar walaupun masih ada staf pengajar yang terlibat. Tapi, Satu tahun kemudian kepercayaan penuh diberikan kepada mahasiswa untuk melakukan Ospek tanpa campur tangan dari pihak pengajar. Pada tahun ini pula AWD sudah tidak menerima mahasiswa baru lagi.
Pada tahun 1989, AWD digabungkan ke UMB. Karena pendidikan mahasiswa AWD sudah selesai sepenuhya dan mereka pun turut mendukung penggabungan ini. Perihal penyambutan mahasiwa baru, biro kemahasiswaan mengganti ospek dengan Orientasi Pendidikan (ORDIK). Dan era perpeloncoan fisik dikalangan mahasiswa barupun dimulai lagi. Sampai dengan tahun 1993 tidak ada perubahan dalam Ordik. Namun banyak komentar dari para mahasiswa sebelum tahun 1993 bahwa Ordik tidak sekeras mereka.
Babak baru Ospek di UMB mulai terjadi lagi di tahun 1996. Yang mana berdasarkan surat keputusan dari DIKTI yang menginstruksikan kepada seluruh PUREK III seluruh Indonesia utuk mengambil sebagian peran mahasiswa dalam penyelenggaraan Ospek. Dengan kewenangan tersebut maka pihak kampus pun kembali mengubah nama Ordik menjadi Pekan pengenalan Studi dan Kampus (PPSK). Kontroversi keputusan inpun bergulir, Sebagian besar mahasiswa tidak setuju terhadap keputusan DIKTI yang menyatakan bahwa PUREK III harus menjadi ketua PPSK untuk tingkat Univesitas, Pembantu Dekan III di tingkat Fakultas dan dosen sebagai koordinator seksi-seksi yang ada. Keputusan Dirjen Dikti ini seperti ingin mengembalikan era Ospek di tahun-tahun awal berdirinya AWD dan UMB yang mana mahasiswa hanya mendapatkan porsi tertentu.
Namun Rohandi, alumni UMB tahun 1998 yang juga staff Dirmawa menjelaskan bahwa kegiatan PPSK berjalan dengan lancar, “ mahasiswa tetap sebagai penyelenggara acara, jadi gak ada masalah tentang Ospek pada waktu itu”, jelasnya.
Masa PPSK berlangsung hingga tahun 1999, dan pada masa itu pula perpeloncoan fisik masih ditemukan. Pada awal millenium baru, tahun ajaran 2000 pergantian nama Ospek pun kembali terjadi dari PPSK menjadi Dunia Kampus (DK). Dan sekali lagi berdasarkan keputusan Direktur Jendral Pendidikan Tinggi Depdiknas no : 38/DIKTI/kep/2000 kegiatan Ospek berganti nama dari Dunia Kampus(DK) . Pada masa ini mahasiswa kembali dipercaya sepenuhnya untuk melakukan kegiatan DK.
Diawal tahun ajaran baru 2009/2010 polemik mengenai Ospek pun kembali bergulir. Berdasarkan Notulen Kajian Manajemen ( Minutes of Management Review, MoMR ) tanggal 31 Juli 2009 nama Dunia Kampus(DK) dirubah menjadi OSKAS (Orientasi Studi Kampus dan Spiritual). Keputusan setebal tiga halaman dengan notulis A. Rahman ini memutuskan kegiatan OSKAS diambil alih oleh pihak PUREK III (Dirmawa) sebagai panitia penyelenggara acara. Dan kembali lagi mahasiswa hanya mendapatkan porsi tertentu untuk pelaksanaan OSKAS ini.
Keputusan yang dinilai secara sepihak ini pun banyak dikecam oleh mahasiswa, Karena dianggap mematikan hak-hak mahasiswa untuk melakukan penyambutan mahasiswa baru. Dan puncaknya, melalui aksi demonstrasi yang digelar didepan rektorat (20/8), mahasiswa menuntut agar ikut dilibatkan seutuhnya dalam acara ini. Akhirnya A. Rahman yang mewakili pihak dirmawa menyetujui aspirasi mahasiswa untuk terlibat dalam OSKAS, setelah dengar pendapat bersama rektor UMB, Suharyadi.(sumber: bank data ORIENTASI) *Rusdi

 
Edited Design by Ali Nardi | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes