Burung terbang

Kamis, 27 Mei 2010

Kurikulum Baru, Harapan Baru

UMB gencar melakukan perbaiakan. Kini giliran kurikulum berbasis kompetensi yang dipilih UMB untuk memajukan kegiatan belajar mengajar di kelas.


Berbagai usaha dilakukan UMB untuk meningkatkan kualitas serta kuantitas, mulai dari pembangunan gedung, perbaikan sarana dan fasilitas serta penerapan kurikulum baru pada lingkup akademis yang diberlakukan pada tahun ajaran 2009/2010. Penggantian kurikulum lama yaitu kurikulum inti ke kurikulum berbasis Kompetensi (KBK) dimaksudkan untuk menuntut peserta didik lebih aktif dan inovatif dalam proses belajar di kelas. Fungsi pengajar sendiri sebagai fasilitator dan pembicara peserta didik dalam pemahaman materi. Selain itu KBK dirancang sebagai penyempurna kurikulum 1994.
Tim KBK itu sendiri berasal dari Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) yang beranggotakan Endrotomo, Institut Teknologi Surabaya (ITS); Siluy Dewayanti, Universitas Gadjah Mada (UGM); dan Illah Sailah, Institut Pertanian Bogor (IPB). Mereka telah melakukan pelatihan dan seminar untuk para Kepala program bidang studi (Kaprodi) dan dosen. Pelatihan dilaksanakan dua kali pertemuan. Pertama, di Dirjen Dikti Pusat, Menteng. Kedua, pada 22 – 23 Januari 2009 di Ruangan C-219 UMB.
Rifda, salah seorang dosen pengajar di Fakultas ilmu komunikasi membenarkan perihal seminar tersebut. “Kami (Baca: pihak dosen) telah diberikan pelatihan berupa seminar dalam dua kali pertemuan, baik dari pihak Dikti maupun pihak UMB“, katanya.
Pemberlakuan KBK ini pun mendapat respon positif dari beberapa civitas akademik UMB. Salah satunya Anwar Prabu selaku Dekan Fakultas Psikologi. ia mengungkapkan, pemberlakuan KBK di UMB ini sangat positif dalam proses pengajaran mahasiswa. Diharapkan dalam penerapannya mahasiswa bisa mengeksplorasi dan mengembangkan materi yang diberikan dosen. “Sistem KBK sebenarnya pengajaran yang tidak hanya dilakukan di kelas, tapi juga di luar kelas,” jelasnya.
Bagi sebagian jurusan, KBK bukanlah hal tabu. Pasalnya, telah menerapkan sejak kehadiran jurusan itu sendiri. Nurprapti Widyastuti, Kaprodi Komunikasi Visual mengungkapkan, ia sangat menyambut positif pemberlakuan KBK. “Sebenarnya jurusan komunikasi visual sistem KBK bukanlah hal baru. Karena sejak awal kita sudah menerapkan sistem tersebut, terutama mata kuliah praktek” tukasnya. Mengenai peruntukan KBK, ia melanjutkan, KBK ini hanya diperuntukan mahasiswa angkatan 2009 diseluruh jurusan. “Jadi, materi pembelajaran direvisi kembali sesuai standar kurikulum KBK,” ucapnya.
Senada dengan Nurprapti, Srijanti, Direktur Akademik UMB menjelaskan, KBK di Perguruan Tinggi sebenarnya sudah diinstruksikan Dirjen Dikti sejak 2002 silam. Namun, penerapannya baru memungkinkan dilaksanakan pada tahun ajaran 2009/2010. “Universitas menerapkan KBK hanya untuk angkatan 2009 dan seterusnya, karena tidak memungkinkan untuk mengganti kurikulum pada angkatan sebelumnya,” tukasnya.
Respon dari mahasiswa angkatan 2009 pun beragam. Seperti Aris Trimurfi, mahasiswa Broadcast ’09 menyambut dengan antusias dengan diberlakukannya kurikulum KBK ini. Menurutnya selama dua bulan masa perkuliahan yang telah ia jalani, sistem KBK berjalan dengan baik dan lancar. “Gue ngerasa enjoy-enjoy aja dengan sistem KBK sekarang, dan nggak ngerasa terbebani juga untuk aktif di kelas,” ungkapnya santai.
Berbeda dengan Aris, Adi Kusniadi mahasiswa Tehnik Informatika ’09 mengungkapkan tentang belum maksimalnya pemberlakuan sistem KBK dalam perkuliahan “sebenarnya gue setuju banget dengan sistem KBK, tapi kalau prakteknya dikelas yang gue rasain belum maksimal. Soalnya tetap aja dosen yang lebih aktif dari pada mahasiswanya”, ujarnya. Selebihnya ia berharap semoga pelaksanaan KBK dalam pekuliahan dalam berjalan lebih baik lagi.
KBK di Perguruan Tinggi.
Sebelum penetapan kurikulum KBK. Sebagian besar Perguruan Tinggi di Indonesia menggunakan Kurikulum Inti. Dan definisi Kurikulum Inti Berdasarkan SK Mendiknas No.045/U/2002 tentang Kurikulum Inti Perguruan Tinggi mengemukakan "Kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggungjawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu". Sehingga sebenarnya penerapan sistem Kompetensi bukanlah hal yang baru dalam jenjang pendidikan tinggi.
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) merupakan kurikulum yang mulai diterapkan pada tahun 2004 sebagai penyempurnaan dari kurikulum nasional 1994. Dalam kurikulum ini menekankan pada kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan suatu jenjang pendidikan. Kompetensi yang sering disebut dengan standar kompetensi adalah kemampuan yang secara umum harus dikuasai lulusan.
Mengenai KBK sendiripun telah diatur pada Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 232/U/2000 yang menetapkan Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa. Dalam Surat Keputusan tersebut dikemukakan struktur kurikulum. berdasarkan tujuan belajar (1) Learning to know, (2) learning to do, (3) learning to live together, dan (4) learning to be. Bersasarkan pemikiran tentang tujuan belajar tersebut maka mata kuliah dalam kurikulum perguruan tinggi dibagi atas 5 kelompok yaitu: (1) Mata. kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) (2) Mata Kuliah Keilmuan Dan Ketrampilan (MKK) (3) Mata Kuliah Keahlian Berkarya (MKB) (4) Mata Kuliah Perilaku Berkarya (MPB), dan (5) Mata Kuliah Berkehidupan Bermasyarakat (MBB).
Di UMB sendiri perencanaan dan penyusunan KBK sudah dilakukan sejak 2008. Abdusy Syarif selaku Kaprodi Teknik Informatika sekaligus tim penyusun KBK mengutarakan mengenai perencanaan kurikulum KBK. “Dalam penyusunan kurikulummaupun bahan ajar KBK ini kita kebut. Rancangannya pun tidak sampai setahun,” jelasnya. *Rizky/Rusdi

Isu Nepotisme di Perpustakaan UMB

Perpustakaan UMB kini telah ‘cantik’.perbaikan dilakukan mulai dari penampilan maupun pelayanan. Namun



Perpustakaan yang awalnya terletak di lantai dua gedung C kini pindah tempat di lantai 5 tower UMB. Alasan pemindahan tempat dimaksudkan untuk memberikan wajah baru bagi perpustakaan. Perbaikan mulai dilakukan dari pelayanan hingga fasilitas yang tersedia. Fasilitas seperti loker dan meja baca jauh lebih baik dari sebelumnya. Sedangkan sistem pelayanan kini terbuka sehingga mahasiswa dapat leluasa mencari buku yang diinginkannya sendiri tanpa harus membuka komputer terlebih dulu.
Staff yang dipekerjakan di perpustakaan Universitas Mercu Buana (UMB) berjumlah dua belas orang; sebelas orang bekerja di perpustakaan UMB Meruya dan satu orang di UMB Menteng, disinyalir melakukan nepotisme dalam hal perekrutan stafnya. Ketika perihal tersebut dikonfirmasikan pada pihak perpustakaan, baik staf maupun Kepala perpustakaan itu sendiri, menampik tudingan tersebut. Mereka menjelaskan, bahwa perekrutan staf perpustakaan dilakukan oleh Biro Sumber Daya Manusia (BSDM). “Perekrutan dilakukan oleh BSDM, jadi tidak mungkin jika terjadi nepotisme di perpustakaan,” jelas Winnie Kresnowiati selaku Kepala Perpustakaan UMB.
Pihak BSDM membenarkan hal tersebut. “Perekrutan memang dilakukan oleh pihak kami (Baca: BSDM),” ujar Natalia Santoso selaku Kepala BSDM. Sebelum dapat bekerja sebagai staf tetap perpustakaan, calon staf harus menjalani segala macam tes, terdiri dari wawancara, tes komputer dan psikotes. Hanya orang-orang dengan hasil tes tertinggi (disesuaikan dengan posisi yang diingingkan) yang dipilih menjadi karyawan UMB, termasuk staf perpustakaan. Selama 3-4 tahun terakhir, BSDM menggunakan sistem kontrak dalam hal perekrutannya.
Dia pun menambahkan, bahwa staf-staf tetap yang bekerja di perpustakaan saat ini adalah orang-orang yang lama bekerja di perpustakaan. Wajah-wajah baru yang ada di perpustakaan memang merupakan mahasiswa magang.
Tetapi, Natalia juga menambahkan, bahwa selama menjabat Kepala BSDM, tepatnya sekitar awal Januari 2009, pihaknya belum melakukan perekrutan kembali untuk staf perpustakaan. “BSDM memang bertugas untuk melakukan seleksi untuk setiap calon karyawan UMB, tidak hanya untuk perpustakaan saja,” jelasnya lanjut.
Nandy Waluyo selaku staf tetap perpustakaan berbeda pendapat. Dia menjelaskan, bahwa ada beberapa staf perpustakaan yang masih memiliki hubungan darah satu sama lain, namun mereka yang masih memiliki hubungan persaudaraan itu hanya sebatas saudara jauh.
Nepotisme kecilan-kecilan mungkin terjadi saat perekrutan mahasiswa yang ingin magang di perpustakan. Seperti yang diutarakan oleh Winnie, “Perekrutan mahasiswa magang dilakukan dari mulut ke mulut saja.” Dia menjelaskan, bahwa setiap mahasiswa magang yang sedang sibuk skripsi tidak boleh lagi magang di perpustakaan. Mahasiswa tersebut harus mencari seorang temannya untuk direkrut menjadi staf magang dengan diberitahu sistem kerjanya terlebih dahulu. “Hal ini kami lakukan agar mahasiswa tersebut dapat mengetahui job desk-nya ketika menjadi mahasiswa magang,” ungkapnya ketika ditemui di ruang kerjanya.

Buku-buku yang terdapat di perpustakaan saat ini semakin bertambah jumlahnya. Sekalipun tiap tahun masih terdapat buku perpustakaan yang hilang. Namun, hal tersebut tertutup oleh penambahan buku yang terus dilakukan oleh pihak perpustakaan. Banyak pihak mempertanyakan mengenai banyaknya buku sumbangan dari alumni UMB yang tidak jelas keberadaanya. Hal itu disanggah oleh Nandy Waluyo, “Buku dari alumni masih ada, tetapi ada juga yang rusak,” jelasnya.
Winnie pun sependapat dengan Nandy. Dia berujar bahwa memang terdapat buku-buku yang hilang setiap tahunnya, tetapi tidak ada ciri yang menjelaskan jika buku yang hilang itu buku sumbangan dari alumni. “Semua data buku yang terdapat di perpustakaan dimasukkan kedalam data base, jadi tidak ada seorangpun yang dapat memastikan bahwa buku yang hilang adalah buku sumbangan alumni,” tegasnya.
Nandy pun menambahkan bahwa saat ini banyak buku yang mengalami kerusakan, baik buku yag berasal dari sumbangan alumni maupun pembelian. Hal ini dikarenakan banyaknya buku yang terlalu sering di fotocopy oleh mahasiswa. Masih menurutnya, kualitas kertas buku-buku tersebut saat ini lebih jelek dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Perpustakaan sendiri telah menyumbangkan buku kurang lebih sebanyak 1.800 eksemplar kepada UMB Yogyakarta. Buku-buku yang disumbangkan merupakan buku-buku yang sudah tidak terpakai lagi di UMB Meruya, tetapi masih layak digunakan.
Mahasiswa pun dibuat bingung dengan penggunaan uang denda yang diberikan pihak perpustakaan apabila ada mahasiswa yang terlambat mengembalikan buku. Winnie menjelaskan bahwa uang denda tersebut langsung disetorkan kepada pihak Biro Administrasi Keuangan (BAK) . “Karena sistem saat ini sudah on-line, jadi semua uang denda langsung disetorkan ke BAK,” katanya. *Ratna

UMB Tidak Punya Kepala


Minimnya tindakan regenerasi Student Government (SG) menjadikan kampus ini kembali ke masa sekolah. Dependensi tindakan mahasiswa dan ketidakmampuan mengatur diri sendiri dibiarkan seolah tak penting. Setahun sudah kita berjalan tanpa kepala, membuat organisasi kampus ini berjalan tanpa arah.

Oleh : Muhamad Wahyu


Setahun sudah mahasiswa UMB kehilangan nakhodanya. Nakhoda yang menjadi penanggung jawab atas semua kegiatan mahasiswa tingkat universitas dibiarkan terbengkalai tak terisi. Terhitung sejak oktober tahun lalu, rektorat secara de jure membekukan perangkat kepemerintahan Hadi Susanto dan Mahadita sebagai ketua BEM dan MPM 2007-2008.. Pembekuan ini diakibatkan atas ketidakmampuan BEM-U mengadakan pemilihan umum juga telah melewati masa jabatan. Tercatat tiga kali pembentukan Komisi Pemilihan Umum Pemilihan Raya (baca : KPU Pemira) tidak ada yang mendaftar. Ironisnya, organisasi tingkat fakultas pun diam tak berdaya. Miralda Genny, eks. Anggota Departemen Luar Negeri MPM 2007 mengatakan kesalahan vital saat itu adalah tidak adanya akumulasi kekuatan dari lokalitas fakultas, sehingga membuat pemilihan ini tidak solid. Setali tiga uang, Hadi juga mengatakan tidak semua anggota BEM-U aktif dalam program kerja BEM.
Ketidaksolidan inilah yang membuat momentum penyambutan mahasiswa baru 2009 menjadi tak terarah. Bongkar pasang Dunia Kampus (DK) menjadi catatan hitam student government (SG) UMB.. Kacaunya DK terlihat dari ambiguitas kinerja Badan Pengawas yang juga menjadi pelaksana dalam lapangan. Juga pada persiapan yang kurang matang. “Panitia dibentuk atas kondisi yang mendesak, jadi maklumin aja” ,ujar Solahudin sebagai ketua BP pada rapat evaluasi DK. Mental menunggu momentum ini memang disesalkan berbagai pihak terutama dari UKM, Ahmad Sahlan, Ketua Swatala 2009 beranggapan, mental mahasiswa masih sangat miris. “Mental organisasi saat ini masih sama seperti anak SMA ,“ tukasnya.
Mengenai status quo saat ini, Agustinus Bayu mengatakan letak kesalahan utama ada dalam diri mahasiswa. Tidak adanya mediator membuat perjalanan SG mengalami penurunan, sehingga mahasiswa tak bisa mandiri. Pernyataan mantan anggota komisi organisasi MPM ini berdasarkan analisis akan mental mahasiswa saat ini yang terlalu individualistis, apatis dan hedonis. “Kelihatan dari tidak adanya minat jadi KPU”, ujarnya.
Kegiatan BEM-U dibawah kepemimpinan Hadi memang diakui oleh Mahadita, sangat minim. Seharusnya proses kaderisasi yang menjadi ajang kompetisi melahirkan generasi kritis dan kreatif wajib berkelanjutan, sehingga gerakan dari lembaga formal lebih agresif, “Mahasiswa saat ini sudah takut pada akademik itu sendiri”, tuturnya. Mantan ketua MPM itu juga mensinyalir ada unsur sentimentil terhadap organisasi kampus oleh pihak-pihak tertentu. “Tidak etis jika saya mengatakan siapa pihak itu”.
Pembenaran akan realitas tak perduli, tentunya akan berakibat buruk pada nasib student Government di UMB ini. Preseden buruk mengenai vacum of power yang diimbuhkan oleh mahasiswa baru harus segera menemukan jalan keluar. Mempercepat pemilihan raya akan sangat menolong sebagai langkah revitalisasi kemandirian sikap mahasiswa. Bayu berpendapat, solusi yang tepat adalah Ing Ngarso Sung Tulodo, sebagaimana yang diajarkan Ki Hajar Dewantara ketika melihat kondisi pendidikan Indonesia. Harapan menciptakan kampus sebagai miniatur negara, tentunya akan segera terwujud jika semua pihak berpartisipasi dan menanggalkan egoistik yang ada untuk memperjuangkan keberadaan BEM-U sebagai simbol integritas mahasiswa.

Rabu, 30 Desember 2009

Janji Dekanat di Malam Minggu

Akreditasi Program studi Teknik Informatika turun, dekanat angkat bicara. Janji – janji ditebarkan , harapan dan ancaman mahasiswa pun jadi jaminannya.

Sabtu malam (7/11) pukul 19.00 WIB ratusan mahasiswa teknik informatika baik reguler maupun kelas karyawan berbondong-bondong datang ke aula UMB dengan membawa spanduk bertuliskan “Kembalikan Akreditas Kami / tutup.” Kedatangan mereka dimaksudkan untuk memenuhi undangan Dekanat perihal turunnya Akreditasi TI. Selain mahasiswa aktif turut hadir pula para alumni yang meramaikan suasana.
Diskusi yang berdurasi dua jam ini dimoderatori oleh Bambang Jokonowo selaku wakil dekan. Awalnya suasana begitu dingin dan senyap, Namun ketika Mustafa Arnanto (Baca:Dekan TI) membacakan sebab-sebab penurunan akreditasi suasana berubah menjadi panas dan moderatorpun membuka ruang bertanya bagi mahasiswa untuk menetralisir suasana.
Panji Pratomo mahasiswa TI ’06 Reguler menjadi mahasiswa pertama yang mengajukan pertanyaan, ia mempertanyakan tentang kesungguhan para pejabat dekanat dalam menjalankan tugasnya. Selain itu ia menegaskan bahwa pernyataan yang tertulis dalam spanduk itu memang ditujukan untuk para dekanat yang seharusnya bertanggung jawab atas masalah ini. Panjipun menyinggung tentang keberadaan dekan yang begitu jarang hadir dikampus, ia menganalogikan “fasilkom ini adalah kereta bapak adalah masinisnya, bagaimana kereta ini mau jalan kalo keretanya sering ditinggal oleh masinisnya,” ujar Panji. Mananggapi pertanyaan tersebut dekan menyinggung tentang organisasi tertinggi mahasiswa,”lalu bagaimana dengan organisasi kalian?” ujar Dekan. Ia mengatakan tidak perlu mempersoalkan tentang keberadaan seseorang, tapi seharusnya mahasiswa fokus ikut membantu dalam memperbaiki keadaan.
Setelah Panji, Tri Sulistio mahasiswa TI ’07 reguler mempertanyakan mengenai rencana jangka pendek yang akan dilakukan oleh kampus, hal ini Di jawab oleh dekan dengan wacana – wacana yang telah tersusun diantaranya akan adanya penambahan dosen tetap dalam waktu dekat ini, pelaksanaan riset dosen akan melibatkan mahasiswa dan akan dilakukan pengabdian masyarakat baik berupa jurnal maupun seminar.
Pernyataan tersebut didukung oleh Devi Fitriah selaku dosen tetap yang sementara waktu menggantikan Abdusy syarif sebagai kepala Program Bidang Studi. Ia mengumumkan hasil rapat dengan pihak rektorat, pada tahun pertama terhitung september 2009 akan ada penambahan empat orang dosen tetap dan akan berlanjut pada tahun berikutnya enam dosen dan tahun ketiga lima dosen tetap jadi selama tiga tahun total 15 dosen tetap sebagai langkah perbaikan. Keputusan ini mengacu pada salah satu faktor penurunan akreditasi yaitu rasio dosen dengan mahasiswa tidak seimbang, seharusnya rasio 1:30 (Baca: satu dosen mengajar 30 mahasiswa). Pada kenyataannya di UMB enam dosen tetap harus mengayomi 1800 mahasiswa.
Hal ini ditanggapi oleh salah satu alumni TI yang hadir, ia menyayangkan sikap kampus yang baru menambah jumlah dosen setelah ada penurunan akreditasi, sejak tahun 1999 jumlah dosen di TI tidak pernah ada penambahan, “apabila itikad baik itu ada, setidaknya dari tahun 1999 satu tahun ada satu dosen baru.” Keluhnya.
Setiyono mahasiswa TI PKK angkatan 11 angkat bicara. Menurutnya ini sebagai unsur bisnis yang dilakukan oleh pihak kampus, ia menganggap pihak kampus terlalu memaksakan jumlah mahasiswa yang masuk tanpa mempertimbangankan kemampuan kampus itu sendiri, ”Kalo Bapak tidak mampu menyediakan banyak dosen ,kenapa bapak berani menerima banyak mahasiswa, kalo mau bisnis , bisnislah yang bersih.” Ujarnya dengan tatapan menghakimi. Ia pun menambahkan , bahwa mereka masuk TI UMB karena akreditasi TI ‘B’ , dengan ada penurunan ini maka ia mempertanyakan kompensaasi yang akan di berikan oleh kampus, terlebih bagi mahasiswa yang sebentar lagi akan lulus. Menanggapi hal itu dekan menjawab bahwa hal itu diluar kewenangannya, “ kita berbenturan dengan marketing.” Jelasnya.
Agung wiseso TI ’06 Reguler menekan kampus untuk menambah jumlah dosen secara signifikan bila kampus memang benar – benar beritikad baik dalam menanggapi hal ini, namun hal ini di mentahkan oleh Bambang Jokonowo selaku wadek, ia mengaku bahwa ia yang bertanggung jawab sebagai tim perekrut dosen baru, ia menjelaskan bahwa begitu sulitnya mencari dosen tetap dijakarta, selain harus mencari dosen yang memiliki kriteria yang sesuai dengan standarisasi yang di terapkan UMB, “kita pun harus saingan dengan kampus lain yang juga membutuhkan penambahan dosen.” Tukasnya.
Mahasiswa pun menerima janji pihak dekanat tentang penambahan dosen, dan pada tahun kedua nanti yaitu tahun 2011 jumlah dosen akan bertambah samapi 15 orang, dan pihak kampus pun akan mengajukan banding apabila dirasa telah mampu dan terjadi kenaikan signifikan dalam perbaikan fasilitas. Mahasiswa pun akan mengadakan pemantauan terhadap tindakan kampus, dan mereka pun meminta pihak kampus memberikan laporan perkembangan itu per tiga bulan. *Dimas

penegakan hukum VS Citra UMB

“Karena kalau kita putus kerjasama, akan merusak citra UMB. Sementara dari unit itu kan perlu kita lindungi tentang agreement-nya,” ujar Magito.

Terhitung, ini adalah tahun kedua festival Universitas Mercu Buana (UMB) diselenggarakan oleh pihak HUMAS di bawah naungan Direktorat Pemasaran UMB. Festival ini mengangkat tema Go succes with diversity. Mengenai konteks tema itu, Irmulan Sati selaku Kepala Biro HUMAS dan Customer Care yang merangkap ketua panitia festival UMB ini menjelaskan, remaja saat ini harus mulai diberikan edukasi sejak dini tentang keberagaman, agar mereka bisa terbiasa melihat sesuatu dari perspektif berbeda. Terutama konteks etnis, budaya dan pola pikir. “Di festival UMB ini semua di create dalam bentuk sport, sains, seni dan green environment,” katanya.
Seperti tahun sebelumnya, acara ini dimeriahkan oleh berbagai perlombaan tingkat SMA/SMK se-Jabotabek. Dari mulai Volley Ball Competition, Basket 3 on 3 Competition sampai perlombaan marawis menjadi bagian dari acara tersebut. Tak hanya itu, bazar makanan dan beraneka cendera mata juga ikut memeriahkan festival yang diadakan dari 16 – 30 Nopember 2009 ini.
Tak dipungkiri, bazar tersebut mengundang banyak animo mahasiswa mengunjungi tiap-tiap stand yang ada di atrium UMB itu. Salah seorang mahasiswa mendukung adanya bazar ini. Selain bisa menarik masyarakat luar untuk masuk dalam ruang lingkup UMB, juga dapat mengefisiensikan waktu belanja mahasiswa. “Bazarnya untuk kita belanja-belanja jadi dekat, sedikit refreshing kan juga perlu,” kata Anggita Aprilda, Broadcast ’08.
Di lain sisi, menuai kontra perihal bazar, khususnya makanan. Pasalnya, peruntukan area yang dijadikan tempat bazar tersebut tidak sesuai dengan peraturan yang selama ini dikumandangkan pihak yang paling bertanggungjawab, Biro Manajemen Gedung dan Sarana (BMGS). Achmad Syahlan, anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) SWATALA mengutarakan perihal bazar makanan, untuk substansi acara khususnya bazar makanan terlihat ada kesenjangan antara pihak kampus dan mahasiswa. “Gue nggak setuju ada bazar makanan gini. SWATALA pernah jalanin bazar makanan dan itu nggak dibolehin sama pihak kampus. Akhirnya bazar yang udah dibuat cuma ada stand-standnya aja, tapi nggak ada yang isi,” tukasnya.
Menanggapi hal itu, Magito selaku Kepala BMGS angkat bicara. Ada yang perlu diketahui teman-teman di lembaga mahasiswa, ada yang tidak sesuai dengan peruntukan area bazar. Dan ini sedang disiapkan surat peraturan sementara, karena walaupun itu institusi di UMB, tentu alokasi tentang peruntukan area semuanya akan kita berlakukan sama, “baik itu untuk lembaga mahasiswa maupun unit yang terkait menopang promosi dan kegiatan di kampus ini,” ujarnya.
Sejalan dengan peraturan peruntukan area yang masih simpang siur ini, Irmulan Sati mengakui adanya teguran yang dilakukan pihak BMGS kepada penyelenggara festival (Baca: Direktorat Marketing), meskipun sebelumnya pihak HUMAS, BMGS dan Kemahasiswaan telah bersinergi. BMGS memberi teguran pada Direktorat Marketing karena terdapat bazar berkaitan dengan makanan. “Sebenarnya BMGS hanya mempersoalkan penjual makanan yang menggunakan kompor gas, karena takut menimbulkan kebakaran kalau terjadi apa-apa,” katanya. Mengenai peraturan baku peruntukan area, Ia menambahkan, pasca peneguran BMGS kemarin (17/11), bazar akan tetap berjalan sesuai kesepakatan pihak eksternal (Baca: Event Organizer) dengan HUMAS UMB. “Karena BMGS sendiri belum ada peraturan tertulis berkaitan dengan mekanisme pengelolaan bazar, dan itu baru akan dikeluarkan 1 Januari 2010,”ujarnya. Ia pun berkilah, “Kalau bazar ini kita stop, nanti akan memperburuk citra UMB sendiri.”
Joko Sugiharjo selaku Kepala Bagian Pengendalian Kegiatan Mahasiswa, mengamini peraturan peruntukan area tersebut yang baru akan dikeluarkan 1 Januari 2010 mendatang. Pertanggal 1 Januari 2010 akan dikeluarkan Surat Keputusan (SK) oleh BMGS yang mencakup seluruh peraturan kampus. Di antaranya peraturan dilarang merokok di area kampus, lokasi-lokasi membuka bazar makanan untuk UKM ataupun pihak kampus sendiri dan juga penempatan jika ada acara musik, penyewaan aula serta fasilitasnya juga. “Saat ini peraturannya sekedar lisan saja, karena mengeluarkan SK itu juga butuh proses, tidak langsung begitu saja keluar SK-nya,” katanya. Mengenai peneguran BMGS kepada Direktorat Marketing, Ia menambahkan, pihak BMGS menegur pihak pemasaran karena memang ada masakan yang menggunakan kompor gas, dan itupun sebelumnya pihak BMGS dan kemahasiswaan tidak tahu dan baru terlihat kemarin (17/11). “BMGS dan pemasaran memberi solusi, agar makanan itu sudah siap saji ketika dijual di UMB, tanpa perlu dimasak lagi. Tetap tidak kami bubarkan, karena demi menjaga nama baik UMB juga,” ujarnya.
Tidak saja pihak Direktorat Pemasaran yang mendapat teguran dari BMGS. Penjual makanan di bazar itu yang notabene tidak tahu-menahu soal larangan tersebut, juga terkena teguran. Pasalnya, masih ada dari mereka yang menggunakan kompor gas pasca teguran ke Direktorat marketing tersebut. “Sempet mau angkat kaki juga dari sini karena nggak boleh pake kompor. Padahal kan pertamanya nggak ada peraturan kaya itu,” kata Dea, salah seorang pedagang combro. Ia mengaku, telah membayar biaya sewa tempat untuk sepuluh hari ke depan dengan biaya perharinya seratus ribu rupiah. Ia menambahkan, peneguran pihak kampus hari rabu (18/11). “Saya sih nggak tahu menahu urusan tidak boleh menggunakan kompor, nggak mungkin gorengan udah dingin gini ada yang beli.”
Dalam hal ini, pihak kantin UMB yang sangat merasa dirugikan, mengeluhkan perihal bazar makanan itu. Mereka menyayangkan pihak universitas menggelar bazar makanan pada festival UMB tahun ini. Realitanya, di UMB sendiri sudah tersedia kantin. “Kalau di atrium ada bazar makanan juga, otomatis kantin sepi pembeli dan omzet kita pun turun,” ujar seorang penjual makanan di kantin UMB yang enggan menyebutkan namanya. Perihal laporan ke pihak universitas, Ia menambahkan, mengenai bazar makanan sudah dilaporkan pihak kantin kepada universitas, namun sampai saat ini (18/11) belum ditanggapi sama sekali.
Magito mengakui, ada beberapa lembaga mahasiswa dan banyak pihak (termasuk kantin) mengeluhkan adanya bazar “makanan basah” di atrium yang sifatnya public area yang digunakan untuk diskusi, istirahat mahasiswa, browsing dan lainnya. Jelas dengan dengan kondisi sekarang ini tentu sangat mengganggu. “Jadi, memang aturan ini agak simpang siur,” tukasnya jujur. Mengenai SK khusus peruntukan area kampus, Ia menambahkan, saat ini BMGS sedang menyusun Work Instructions (WI) untuk mengatur semua fasilitas kampus untuk bisa berjalan baik. Baik itu fungsi office room, ruang rapat lembaga mahasiswa dan universitas, kelas, lalu selasar A- B, koridor antara B-D dan khususnya selasar atrium UMB. Sehingga perlakuan terhadap lembaga mahasiswa dan instusi juga akan diberlakukan adil. Kita targetkan terhitung mulai 1 Januari 2010, seluruh penataan area zona ini akan kita berlakukan adil. “Kalau itu diizinkan untuk universitas tentu akan diizinkan pula pada lembaga mahasiswa,” imbuhnya.
Mengenai tindakan ke depan BMGS untuk bazar makanan ini, seperti diungkapkan Magito, ini terkait dengan kesepakatan antara ketua festival dengan Event Organizer. “Karena kalau kita putus kerjasama akan merusak citra UMB. Sementara dari unit itu kan perlu kita lindungi tentang agreement-nya,” ujar Magito.
*RizalMohamad

 
Edited Design by Ali Nardi | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes